PANGKALPINANG – Angka kelahiran sapi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melebihi jumlah yang ditargetkan. Hingga akhir tahun 2021 total sapi yang lahir di provinsi ini sebanyak 940 ekor. Padahal pemerintah pusat cuma menargetkan 585 ekor.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Drh Judnaidy mengatakan meningkatnya jumlah sapi yang lahir tersebut akan berdampak positif pada populasi sapi di Negeri Serumpun Sebalai.
“Ke depannya diharapkan untuk dapat meningkatkan lagi populasi sapi di Provinsi Babel agar tidak lagi bergantung kepada suplai dari luar negeri,” kata Judnaidy saat membuka Rapat Koordinasi Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) dan Pertemuan Forum Fungsional Peternakan Tahun 2022 di Hotel Grand Vella Pangkalpinang, Selasa (29/03/2022).
Tidak saja pada kelahiran, menurut Judnaidy jumlah sapi yang bunting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga melampaui target yang ditetapkan pemerintah pusat. Ada 991 sapi yang bunting tahun lalu dari 650 ekor yang ditargetkan.
“(Angka sapi bunting) menyentuh persentase sebesar 150 persen. Sementara itu untuk program IB (Inseminasi Buatan) yang ditargetkan 1.000 ekor mencapai angka 1.503 ekor atau mencapai 150 persen dari yang ditargetkan oleh pemerintah pusat,” ujar Judnaidy bangga.
Judnaidy menambahkan kebutuhan daging sapi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun ke tahun selalu meningkat. Hanya saja peningkatan tersebut tidak diikuti dengan suplai daging sapi dari dalam negeri.
“Artinya kita masih selalu bergantung kepada suplai dari luar negeri khususnya dari Australia dan New Zealand,” tambahnya.
Karena itu Judnaidy mengajak seluruh stakeholder dan komponen terkait untuk terus berupaya meningkatkan populasi sapi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ia optimis ketergantungan daging sapi daerah ini dengan daerah luar akan terus berkurang seiring dengan bertambahnya populasi sapi dalam daerah.
“Dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh stakeholder dan komponen terkait mari kita tingkatkan populasi sapi di provinsi ini sehingga ketergantungan kita terhadap suplai daging sapi dari luar bisa kita tekan secara bertahap. Dulu ada Program Upsus Siwab yang menargetkan peningkatan sapi wajib bunting tetapi dengan adanya program Sikomandan sapi ditargetkan harus melahirkan tidak cukup hanya bunting saja. Ke depannya mungkin juga program ini tidak hanya menargetkan angka kelahiran saja tapi juga dapat menekan angka kematian. Sehingga dengan angka kelahiran yang tinggi diikuti dengan angka kematian yang rendah maka akan menghasilkan angka populasi yang tinggi,” tandasnya.*)





