Bangka Belitung Surplus Cabai Merah

PANGKALPINANG – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Edi Romdhoni SP MM memastikan produksi cabai merah atau cabai besar di Babel telah surplus.

Ia mengatakan kerja keras petani lokal untuk memproduksi komoditi tersebut menyebabkan daerah ini tidak lagi tergantung dengan cabai merah dari luar daerah sebagaimana yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

“Kalau pun masih ada yang dipasok dari luar jumlahnya sangat sedikit sekali. (Jadi) Bangka Belitung sudah swasembada cabai merah. Ini untuk kurun waktu kira-kira dua tahun terakhir,” kata Edi ketika memberikan sambutan saat membuka Pelatihan Penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) yang diselenggarakan Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel di Hotel Cordela Pangkalpinang, Jumat (16/06/2023).

Sementara itu Data Badan Pusat Statistik menyebutkan jumlah produksi cabai merah atau cabai besar Babel Tahun 2022 mencapai 6.056 ton. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2021 yang cuma sebesar 5.059 ton. Sementara pada tahun 2019 produksi cabai besar di Babel masih pada angka 2.468 ton.

Edi berharap kerja keras petani cabai besar tersebut dapat diikuti petani komoditi yang lain di Babel. Di sisi lain ia juga minta petani cabai tetap konsisten menggeluti usaha taninya sekaligus mengingatkan instansi terkait untuk terus melakukan pendampingan dan pengawalan agar usaha tani cabai yang dikelola petani dapat terus berlanjut di masa mendatang.

“Tolong petani cabai jangan diganggu lagi, jangan diiming-imingi dengan timah. Nanti kalau dia habis maka kita akan ketergantungan (cabai besar) dengan daerah luar lagi,” tegas Edi.

Berbeda dengan cabai merah, Edi mengatakan belasan komoditi pertanian pokok lain yang dikonsumsi masyarakat Babel masih banyak dipasok dari luar pulau. Namun ia optimis produksi komoditi-komoditi pertanian lain itu juga akan menyusul cabai merah ke depan. Hanya saja menurut Edi butuh proses dan kerja keras berbagai pihak untuk mewujudkan itu.

“Kalau padi, kita punya cetak sawah 22.400 (hektar). (Dengan) IP (Indeks Pertanaman) 200 saja selesai (kebutuhan beras di Babel) dengan jumlah penduduk kita satu juta lima ratus (ribu jiwa). Tapi persoalannya sekarang berapa orang yang tertarik nanam padi,” tandasnya.*)

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Hairil Anwar
Editor: 
Hairil Anwar