PANGKALPINANG – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP memerintahkan jajarannya untuk mencari solusi atas melambungnya harga pupuk non subsidi di tingkat petani. Menurut Juaidi solusi tersebut sangat penting untuk meringankan beban petani dalam mengelola usaha taninya.
“Walaupun di satu sisi kita (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan-red) tidak menyelenggarakan fungsi litbang tapi kita harus mencoba untuk mencari solusi (atas kenaikan harga pupuk),” kata Juaidi ketika memberikan arahan pada seluruh ASN dan THL, Senin (06/12/2021) pagi.
Juaidi menyebutkan kenaikan harga pupuk sangat membebani petani. Apalagi angka kenaikan tersebut sangat besar melebihi angka kenaikan harga komoditas yang dijual petani.
“Hari ini beberapa orang mengeluhkan kenaikan harga pupuk. (Memang) sekarang (harga) komoditas pertanian naik tapi harga pupuk lebih naik lagi. Kalau dikalkulasikan tidak seimbang. Harga komoditi naik 50 persen tapi harga pupuk naik 100 persen,” sebut Juaidi.
Karena itu Juaidi mengajak jajarannya untuk mencari solusi atas kenaikan harga pupuk tersebut. Menurutnya pemerintah harus memberikan alternatif lain agar petani tidak terbebani dan kegiatan usaha tani tetap berjalan.
“Mencari alternative agar petani kita tidak terbebani akibat (harga) pupuk (yang tinggi),” ujar Juaidi seraya menambahkan persoalan lain yang juga mesti jadi perhatian adalah berkurangnya tenaga kerja sektor pertanian karena beralih ke tambang.
“Ini juga menjadi problematika kita walaupun dari pertumbuhan ekonomi kita dukungan sektor pertanian sangat bagus,” tandas Juaidi.
Sebelumnya sebagaimana dikutip dari distan.babelprov.go.id edisi Senin 8 November 2021, petani di Kepulauan Bangka Belitung mengeluhkan kenaikan harga sejumlah jenis pupuk non subsidi. Ketua Poktan Sepakat Maju Desa Petaling Kecamatan Petaling Kabupaten Bangka A Rasyid M Noor misalnya menyebutkan kenaikan harga pupuk sangat tinggi hingga membebani petani.
"Bahkan pupuk (NPK) Mutiara itu sekarang harganya di atas 600 ribu per karung. Kami mohon dicarikan solusinya," ujar Rasyid*)

