Dalam rangka mengembangkan Integrasi Sawit – Sapi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Bidang Peternakan mengunjungi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Senin (18/11).
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ir Nurhayati mengatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut atas terbitnya Peraturan Gubernur (Pergub) Kepulauan Bangka Belitung Nomor 43 Tahun 2019 tentang Integrasi Usaha Sawit-Sapi pada Perkebunan Kelapa Sawit.
“Kunjungan ke Fapet UGM ini bertujuan untuk mendiskusikan perencanaan pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan Fapet UGM dalam rangka pengembangan peternakan sapi potong terintegrasi (Integrasi Sawit - Sapi),” kata Nurhayati.
Dengan adanya PKS antara Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Fapet UGM tersebut lanjut Nurhayati, diharapkan mampu mendorong upaya peningkatan populasi ternak guna pemenuhan kebutuhan daging sapi dengan program inovatif BABEL LUMPAT 2022 (Lumbung Pangan Asal Ternak) dapat segera terwujud.
“Kebijakan yang dituangkan berdasarkan Pergub Nomor 43 Tahun 2019 dapat mendorong peningkatan populasi ternak sapi khususnya pada daerah kepulauan, dengan harapan pendampingan dari UGM mampu mendorong percepatan integrasi sawit-sapi,” kata Nurhayati didampingi Dody Novianto SPt MM, Marlina SP, M Taufiq Alamsyah SPt, Sumarni SE dan Vergawati.
Sementara itu dari pihak Fapet UGM yang hadir pada diskusi pengembangan Integrasi Sawit-Sapi tersebut adalah Prof Dr Ir Endang Baliarti SU, Ir Panjono SPt MP PhD IPM ASEAN Eng, Ir Tri Satya Mastuti Widi SPt MP MSc PhD IPM ASEAN Eng, Dr Ir Bambang Suhartanto DEA IPU selaku tim dosen dari Departemen Produksi Peternakan dan Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet UGM.
Fapet UGM diwakili Prof Dr Ir Endang Baliarti SU berharap kebijakan integrasi sawit sapi menjadi titik point yang karena dapat memberikan nilai tambah (value added) dan pengurangan biaya produksi dalam perkebunan sawit. Seiring dengan hal itu, dalam aspek lingkungan kata Endang Baliarti, integrasi ini sangat mendukung pertanian berkelanjutan dengan prinsip zero waste dan pengurangan penggunaan bahan kimia, serta mengedepankan prinsip kekinian dalam dunia pertanian, yakni Back to Nature.
“Pemda memiliki peran yang sangat vital dalam memastikan dilaksanakannya suatu kebijakan. Dibutuhkan ketegasan dalam pelaksanaan hal tersebut,” kata Endang, professor di bidang produksi sapi potong yang telah banyak mengembangkan sistem integrasi sapi potong di beberapa daerah di Indonesia.
Sementara itu Dr Ir Bambang Suhartanto DEA IPU mengatakan untuk mendorong perusahaan Sawit mengintegrasikan sawit-sapi, perlu masukan tentang keuntungan penerapan sistem integrasi ini. Menurutnya, Integrasi Sapi - Sawit disamping memberikan nilai tambah bagi perusahaan sawit juga mendorong pengurangan biaya pemeliharaan sawit.
“Di sisi lain, Negara Malaysia telah terlebih dahulu dalam menginplementasikan penerapan Integrasi Sawit-Sapi. Sistem integrasi Sawit-Sapi berkembang ke system double avenue nya, dimana perusahaan sawit dari awal pembuatan kebun sawit, sudah mempersiapkan jalur dalam blok kebun sawit dengan menghilangkan 2 baris sawit sebagai jalur lewatnya ternak dan jalur masuknya sinar matahari agar rumput dibawah naungan sawit tetap tersedia meski pohon sawit telah berusia lebih dari 10 tahun. Sangat cocok jika kita menerapkan system tersebut di Indonesia,” kata Bambang.*)



