BANGKA TENGAH — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Bidang Ketahanan Pangan melakukan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal di Halaman Kantor Bupati Bangka Tengah, Rabu (22/09/2021) lalu.
Kegiatan yang dihadiri Bupati Bangka Tengah Algafri Rahman ST itu digelar dalam upaya meningkatkan ketersediaan dan konsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat pengganti beras.
Ikut hadir dalam acara yang mengusung tagline “Kenyang Tidak Harus Nasi” tersebut Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Erwin Krisnawinata STP MSi, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Hj Sulastri SP MM dan Kepala Dinas Pangan Kabupaten Bangka Tengah Edi Romdhoni SP MM.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Hj Sulastri SP MM mengatakan Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian telah mencanangkan Program Diversifikasi Pangan Lokal berbasis kearifan lokal yang berfokus pada satu komoditas utama untuk setiap provinsi. Diversifikasi Pangan Lokal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri fokus pada komoditi ubi kayu.
“Fokus pada komoditi ubi kayu itu sesuai potensi lokal dan Peta Sasaran Lokasi Diversifikasi Pangan Lokal Sumber Karbohidrat Non Beras,” kata Sulastri melalui rilis yang diterima distan.babelprov.go.id, Kamis (23/09/2021).
Menurut Sulastri masyarakat Indonesia telah mengenal berbagai jenis pangan penyedia kalori selain beras seperti ubi kayu, ubi jalar, talas atau keladi, kentang dan jenis pangan lainnya. Pangan khas lokal tersebut memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan beras, seperti ubi kayu memiliki kandungan serat yang tinggi dan angka indek glikemik yang rendah.
“Diversifikasi pangan lokal itu bertujuan menurunkan konsumsi beras 2 kg per kapita per tahun dan meningkatkan konsumsi pangan lokal sumber karbohidrat lainnya, seperti ubi kayu 1,90 kg per kapita per tahun,” ujar Sulastri.
Sementara itu Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman ST sebagaimanan dikutip dari Bangkapos.com edisi 22 September 2021, menilai program diversivikasi pangan lokal ini dilakukan mengingat kondisi lahan yang ada saat ini mulai sempit dan juga pengaruh cuaca yang tidak menentu. Untuk itu pihaknya mengajak masyarakat untuk mulai melirik pangan lokal, seperti ketela, bijur, talas dan lainnya untuk di konsumsi. Menurut Algafry, beras aruk yang terbuat dari ubi menjadi satu di antara alternatif pengganti beras yang bisa dikonsumsi masyarakat.*)





