PANGKALPINANG – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Edi Romdhoni SP MM memaparkan berbagai keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan sektor pertanian di Negeri Serumpun Sebalai selama lima tahun ke belakang.
Keberhasilan tersebut disampaikan Edi kepada Tim Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat sesi wawancara dalam rangka pembuatan film dokumenter terkait kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Periode 2017 - 2022 Dr H Erzaldi Rosman SE MM dan Drs H Abdul Fatah MSi di ruang kerjanya lantai II Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (11/05/2022).
Secara umum ada sejumlah capaian yang disampaikan Edi, diantaranya perluasan dan pengembangan lada putih melalui pembagian benih lada secara gratis kepada petani.
“Ada 8.083.000 yang telah dibagikan,” kata Edi.
Tak hanya benih, menurut Edi pembagian secara cuma-cuma itu juga dibarengi dengan bantuan alat pasca panen seperti bak perendaman, alat penepung dan pengering lada.
“Selain itu ada juga bantuan pupuk organik,” sambungnya.
Edi berharap bantuan benih lada termasuk pupuk organik dan fasilitas pengolahan tersebut dapat meningkatkan produksi. Hal tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk mewujudkan kembali kejayaan lada putih di Negeri Serumpun Sebalai.
“Alhamdulillah awal April 2022 tadi harga lada sudah mencapai Rp 96 ribu per kilogram,” ujar Edi seraya menambahkan peningkatan sumber daya manusia pertanian juga menjadi fokus pemerintah daerah.
“Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkompeten pada sektor pertanian, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan kerjsama dengan berbagai perguruan tinggi seperti IPB, UGM dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang. Terkahir kita telah memberangkatkan tujuh anak petani untuk kuliah di Polbangtan,” urainya.
Selain kegiatan pengembangan dan peningkatan produksi lada, pada sesi wawancara yang berdurasi selama sepuluh menit itu, Edi juga menjelaskan berbagai capaian subsektor lain selain perkebunan. Selain integrasi sapi dan sawit dalam upaya pemenuhan kebutuhan daging dalam daerah, Edi juga menjelaskan perkembangan food estate, kredit usaha rakyat sektor pertanian serta pengembangan sentra hortikultura dalam kurun waktu lima tahun terakhir.*)





