Penyuluh Berperan Besar dalam Keberhasilan Pembangunan Pertanian

PANGKALPINANG—Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Yanuar SH MH mengatakan peran penyuluh sangat strategis dalam membangun sektor pertanian. Menurutnya peran penyuluh tersebut sangat berpengaruh terutama dalam rangka mengubah sikap, pengetahuan dan keterampilan petani di tingkat lapang.

“Penyuluh pertanian mempunyai peran sentral sebagai garda terdepan di wilayah kerjanya masing-masng sekaligus sebagai inspirator dan motivator bagi para petani,” kata Yanuar saat memberikan arahan pada Temu Teknis Penyuluh Pertanian se Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Hotel Fox Harris Pangkalpinang, Rabu (07/09/2022).

Karena itu Yanuar mendorong para penyuluh untuk terus meningkatkan kemampuannya. Kegiatan temu teknis yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel itu disebutnya juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan penyuluh.

“Penyuluh pertanian harus ditingkatkan kapasitasnya. Temu Teknis ini harapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi penyuluh pertanian di Bumi Serumpun Sebalai ini untuk mendukung pertanian ramah lingkungan di wilayah kerjanya masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel Edi Romdhoni SP MM mengatakan keberhasilan pembangunan pertanian di tanah air ditentukan kualitas sumber daya manusia pertanian termasuk para penyuluh.

Tanpa mengecilkan peran yang lain ia meyakini sektor pertanian akan berjalan melambat jika tidak didukung dengan manusia pertanian yang berkualitas.

“Sehebat apapun teknologi diberikan, sehebat apaun sarana prasarana disiapkan, sehebat apa pun input produksi diberikan kalau sumber daya manusianya beum siap maka gagal pembanguan pertanian,” kata Edi.

Karena itu Edi memandang peran penyuluh pertanian sangat vital di lapangan. Bahkan menurutnya peran penyuluh bisa mempengaruhi separuh dari keberhasilan pembangunan pertanian.  

“Andai keberhasilan pembangunan pertanian itu nilainya seratus maka lima puluhnya (ditentukan) kapasitas sumber daya manusia (yang) di dalamnya (ada) para penyuluh dan pelaku (yaitu) petani itu sendiri. Dua puluh lima persen itu disokong oleh kebijakan pemerintah dan dua puluh lima persen lagi kesiapan sarana prasarana,” ujarnya.

Namun kata Edi ketersediaan SDM saja pun tidaklah cukup. Pembangunan pertanian butuh dukungan berbagai regulasi dan sarana prasarana yang memadai. Pada kesempatan itu ia juga memuji kepiawaian petani dalam menggunakan alat dan mesin pertanian ketika mengelola usaha taninya.

“Dulu (alsintan) jadi besi tua. Tapi sekarang dengan pendampingan kawan-kawan (penyuluh) alat-alat itu sudah terpakai semuanya,” tuturnya.*)

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Yondi
Editor: 
Hairil Anwar