Kopi Petaling Banjar Jadi Tema BoC Kementan, Dedi Nursyamsi: Ini Langkah Cerdas

PANGKALPINANG – Kementerian Pertanian melalui Balai Pelatihan Pertanian Lampung bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menggelar Bertani on Cloud (BoC), Kamis (10/11/2022).

BoC yang mengusung tema Rahasia Kopi Petaling (Kopling), Panen Melimpah Petani Berkah  digelar langsung di lokasi Kelompok Tani Kopling Banjar Desa Petaling Banjar Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka itu juga diikuti secara online oleh para petani dan pencinta kopi di tanah air.

Kepala Badan Pengembangan Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr mengapresiasi BoC yang mengangkat kopi petaling banjar sebagai tema kegiatan.

“Ini merupakan langkah cerdas,” kata Dedi.

Hadir Kepala Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Edi Romdhoni SP MM, Kepala Balai Pelatihan Pertanian Lampung Dr Abdul Roni Angkat STP MSi dan Kepala BPTP Babel Dr Agus Wahyana Anggara SSi MSi.

Dedi Nursyamsi menerangkan kondisi ekonomi global saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Krisis pangan disebutnya terus mengancam akibat berbagai peristiwa besar yang melanda dunia.

“(Namun) apapun yang terjadi, bagaimanapun yang terjadi kita semua tetap minum kopi. Kopi pasti selalu kita konsumsi. Kopi petaling adalah solusi untuk mengatasi krisis pangan global utamanya kopi petaling yang kualitas ekspor ke seluruh manca negera,” ujarnya.

Dedi Nursyamsi meyakini kopi petaling akan menjadi komoditi pilihan para pencinta kopi ke depan. Karena itu ia minta keunggulan produk tersebut untuk terus ditonjolkan agar dapat bersaing di pasaran.

“Pasar untuk kopi luar biasa, apalagi jika kopinya memiliki ciri khas, memiliki bau yg khas, tekstur yg khas,” terangnya seraya mengajak para pencinta kopi untuk menjadikan kopi petaling sebagai sumber inspirasi.

“Kalau kita ingin mendapatkan inspirasi jangan lupa kopi petaling karena kopi petaling pasti menghasilkan kenikmatan yang luar biasa. Oleh karena itu jangan lupa konsumsi kopi petaling,” ajaknya berulang-ulang.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Kopling Banjar Sumardi menceritakan kebun kopi yang ia geluti itu dimulai sejak tahun 2013. Menurutnya ada banyak permasalahan yang dihadapi saat awal mula usaha itu dirintis.

“Ada dua permasalahan, yang pertama kendala (masyarakat terkait) biji untuk benih dalam artian bibit. Kemudian yang kedua setelah mereka tanam hasil panen mau dibuang (dipasarkan-red) ke mana,” kata Sumardi.

Namun Sumardi tidak patah arang. Melalui sosialisasi dan pendekatan dengan berbagai komponen masyarakat ia terus meyakinkan petani sekitar untuk melakukan usaha tani kopi.

“Masyarakat mulai bergabung di tahun 2020 dan sampai sekarang kita memiliki lahan seluas 78 hektar namun yang baru tertanam seluas 13 hektar,” tandasnya.*)

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Hairil Anwar
Editor: 
Hairil Anwar