Pukpes Mahal, Wagub Abdul Fatah: Pengaruhi Produksi Hasil Pertanian

PANGKALPINANG—Wakil Gubernur (Wagub) Kepulauan Bangka Belitung Drs H Abdul Fatah MSi mengatakan tingginya harga pupuk dan pestisida (pukpes) di tingkat petani mempengaruhi produksi hasil pertanian. Menurut Wagub hasil panen petani tidak akan maksimal jika mereka kesulitan membeli pupuk akibat harga belinya yang tidak terjangkau.

“Pencapaian produksi hasil pertanian yang maksimal tidak terlepas dari penggunaan pupuk dan pestisida yang berimbang dan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan. Namun pencapaian tersebut masih sering terkendala yang diakibatkan terjadinya peningkatan harga pupuk dan pestisida,” kata Wagub dalam arahannya ketika membuka Rapat Koordinasi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara online menggunakan aplikasi zoom, Senin (13/12/2021).

Karena itu tutur Wagub pengawasan pukpes harus dilaksanakan secara terkoordinir baik antara pusat dan daerah maupun antar instansi terkait melalui wadah KP3. Koordinasi tersebut sambung Wagub sangat penting karena selain harga pukpes yang mahal, hasil panen petani yang tidak maksimal juga disebabkan banyaknya peredaran pupuk illegal, pupuk palsu dan pupuk yang tidak terdaftar secara resmi.

“Rendahnya mutu pupuk dan pestisida tidak hanya berakibat pada produksi tetapi akan berdampak kepada rendahnya daya tahan tanaman sehingga rentan terhadap hama dan penyakit,” ujar Wagub.

Sementara itu Kepala Seksi Pupuk dan Pestisida Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Budi Jaya Santosa SP mengatakan melambungnya harga pupuk non subsidi belakangan ini disebabkan banyak factor.

“Menurut Perencanaan dan Manajemen PSO PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) Pak Eric J Rachman dalam rakor tadi bahwa untuk pupuk KCL misalnya harganya mahal karena selain terganggunya pasokan dari Belarus juga disebabkan adanya kenaikan harga pupuk tersebut di India dan China. Kalau Diammonium Fosfat (DAP) harganya tinggi karena adanya pembatasan ekspor China, Rusia dan Vietnam,” kata Budi kepada distan.babelprov.go.id hari ini.

Terkait dengan pupuk ZA yang juga naik di pasaran, menurut Budi disebabkan tingginya permintaan dunia terhadap jenis pupuk itu serta adanya pembatasan ekspor dari China.  

“Sedangkan pupuk TSP dan SP36 juga ikut naik karena asam fosfat yang merupakan bahan untuk membuat pupuk tersebut menurut Pak Eric juga naik karena adanya kenaikan harga kontrak antara India dan OCP Morocco,” tandas Budi yang juga bertindak sebagai moderator mewakili Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Asdianto SP MT pada Rakor KP3 tersebut.

Rakor KP3 Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut diikuti pengurus KP3 kabupaten dan kota serta distributor pupuk bersubsidi. Sedangkan narasumber berasal dari PIHC juga dari Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.*)  

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Dokumentasi Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian
Editor: 
Hairil Anwar