PANGKALPINANG – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendapat tambahan pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat. Jumlah pupuk yang ditambah sebanyak 11.508 ton. Dengan tambahan tersebut total pupuk bersubsidi untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi 67.682 ton atau naik 20,49 persen dari sebelumnya 56.174 ton.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Asdianto SP MT mengaku bersyukur adanya tambahan alokasi pupuk bersubsidi tersebut meskipun waktu penyaluran tersisa dua bulan ke depan.
“Karena tidak banyak provinsi lain yang ditambah alokasi pupuknya. Kita bersyukur,” kata Asdianto saat memimpin rapat pupuk bersubsidi bersama pihak distributor dan pejabat terkait dari Dinas Pertanian Kabupaten dan Kota di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (25/10/2021) hari ini.
Karena itu Asdianto minta stakeholders terkait untuk segera menyusun rancangan kebutuhan pupuk bersubsisi menurut alokasi yang baru. Menurutnya sisa waktu dua bulan ke depan mesti dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tambahan alokasi pupuk bersubsidi tersebut dapat terserap habis.
“Sekarang sudah bisa ancang-ancang. Harapan kita bisa terserap. Kita harus kerja keras,” ujar mantan Kasubag Program dan Anggaran Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu.
Menurut Asdianto alokasi tambahan pupuk bersubsidi harus disusun secermat mungkin. Hanya saja ia menekankan subsector tanaman pangan harus menjadi prioritas. Selain itu Asdianto menegaskan bahwa petani yang dapat menebus pupuk bersubsidi adalah petani yang sudah terdaftar di Sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
“Prioritaskan dulu untuk tanaman pangan. Yang kedua (prioritaskan) apa yang ada di e-RDKK,” tegas Asdianto seraya mengatakan tambahan alokasi itu masih siginifikan jika dibandingkan dengan kebutuhan total pupuk bersubsidi.
“e-RDKK kita sebanyak 265 ribu ton. Jadi kalau kita mendapatkan 67.682 masih sepertiganya. Artinya masih signifikan,” tandas alumni Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran tersebut.*)





