Babel Defisit 15.061 Ekor Sapi

PANGKALPINANG – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) defisit 15.061 ekor sapi setiap tahun. Kemampuan peternak lokal yang cuma mampu menyediakan 2.672 ekor sapi belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging yang mencapai 5.300 ton atau setara 17.351 ekor sapi per tahun.

“Sementara kemampuan bulog memasok daging hanya 100 ton per tahun. Sehingga jika hanya dipenuhi dari produksi lokal dan bulog maka masih terjadi defisit sebesar 15.061 ekor untuk konsumsi,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel Edi Romdhoni SP MM ketika memberikan sambutan saat membuka Rapat koordinasi Peningkatan Populasi dan Produksi Ternak Sapi di ruang rapat lantai II kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel di Pangkalpinang, Kamis (15/06/2023).

Kekurangan sapi tersebut kemudian didatangkan dari luar daerah. Menurut Edi setidaknya ada 15.388 ekor sapi setiap tahun yang dipasok ke Negeri Serumpun Sebalai dalam rangka mencukupi kebutuhan daging di daerah ini.

“Ketersediaan (sapi) tingkat lokal hanya 11,31 persen. Sisanya didatangkan dari luar Babel,” jelasnya.

Karena itu pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi ternak sapi ke depan. Upaya tersebut diantaranya melalui bantuan 110 ekor sapi yang disebar pada tujuh kabupaten dan kota se Provinsi Babel yang didanai APBD tahun ini.

“Intinya dalam rangka untuk meningkatkan populasi dan produksi daging di Babel peranan bantuan pemerintah ini sangat penting. Kalau kita berharap dari masyarakat untuk membeli sapi untuk memelihara saya pikir persentasenya masih sangat kecil. (Jadi) kita yang harus mendorong terus,” ujarnya.

Ke depan Edi berharap kemampuan peternak lokal untuk menyediakan daging sapi semakin tinggi. Dengan demikian ketergantungan Babel terhadap ternak sapi dari luar daerah akan terus berkurang karena sudah disediakan peternak dalam daerah.

“Target sampai tahun 2026 populasi 23.357 ekor sedangkan produksi daging 7.135 ekor,” terangnya seraya menambahkan pengembangan hijauan pakan ternak juga menjadi rangkaian lain dalam rangka membantu peningkatan populasi ternak di masa mendatang.

“Termasuk sarana dan prasarana produksi, kemudian optimalisasi reproduksi melalui inseminasi buatan dan kelahiran ternak sapi serta upaya meningkatkan pelayanan kesehatan hewan,” tandasnya.*)

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Hairil Anwar
Editor: 
Hairil Anwar