MENTARI bersinar terik di kawasan usaha tani sayuran sawi Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Rabu (28/07/2021) siang. Cahaya panasnya serasa menembus kulit. Tak tampak awan putih berarak yang biasanya menghalangi sinar matahari di siang itu. Akibatnya tubuh menjadi gerah dan cucuran keringat menjadi deras.
Sementara itu seorang lelaki setengah baya berdiri santai di tepi areal kebun. Seakan tak menghiraukan sengatan mentari, lelaki bernama Kurniadi itu tampak bersemangat menjelaskan kondisi sayuran sawi yang ia tanam pada tim monitoring dan evaluasi dari Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang hari itu melakukan kunjungan ke kawasan usaha tani sayuran di desa tersebut.
“Kalau dijumlahkan, hasil sawi yang telah kami panen mencapai dua ton. Kami panennya tidak serempak sehingga setiap hari itu pasokan sawi tetap ada,” kata Kurniadi bersemangat menjelaskan kepada tim.
Kurniadi merupakan salah satu petani yang menerima bantuan sarana produksi (saprodi) usaha tani sayuran komoditas sawi dari pemerintah tahun ini. Bantuan yang diberikan berupa paket lengkap. Tak cuma benih. Pupuk dan pestisida serta saprodi pendukung yang lain juga termasuk ke dalam paket bantuan.
“Kami cuma tinggal tanam. Alhamdulillah Bantuan yang diberikan lengkap. Jadi petani sebatas menyediakan tenaga,” ujar Kurniadi.
Hanya saja lanjut Kurniadi, harga jual sawi di pasaran sekarang sedang tidak bagus. Pengepul cuma menghargai seribu lima ratus rupiah untuk setiap kilogram sayuran sawi hijau yang diproduksi petani. Namun Kurniadi dan petani lain tak dapat berbuat banyak. Mereka tetap berproduksi di tengah harga jual yang terjun bebas.
“Untungnya kami tidak mengeluarkan modal karena dari benih sampai pupuk dibantu pemerintah. Sehingga meski harga anjlok kami masih bisa dapat ujung (untung-red),” jelas Kurniadi didampingi penyuluh pertanian Desa Jada Bahrin Erwin Januar SP.
Hal serupa dikatakan Junaidi, petani sawi Kelurahan Tua Tunu Kecamatan Gerunggang Kota Pangkalpinang. Menurut Junaidi petani sawi masih bisa meraup untung meski harga jual anjlok di tingkat pasar.
“Sawi kami cuma dibeli seribu rupiah per kilonya. Tapi Alhamdulillah pak masih ada keuntungan yang kita dapat karena saprodik dibantu pemerintah. Tapi kalau benih dan lain-lain harus beli memang kami rugi,” kata Junaidi.
Junaidi mengaku anjloknya harga jual sawi di tingkat pengepul belum lama terjadi. Pasalnya sepekan sebelum Hari Raya Idul Adha harga sawi sangat tinggi.
“Bahkan sebelum Idul Adha mencapai 20 ribu per kilo. Itu pun pengepulnya datang langsung ke kebun. Tapi sekarang betul-betul jatuh harganya,” ujar Junaidi seraya menambahkan hasil panen yang ia dapat mendekati angka satu ton.
Sementara itu Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Irman Hasan SP mengatakan anjloknya harga sawi disebabkan banyak factor. Salah satunya terkait pasokan sawi dari luar Pulau Bangka yang sangat banyak.
“Artinya bantuan yang kita berikan sangat membantu para petani sawi. Mereka masih bisa mendapatkan keuntungan meskipun harga turun jauh karena saprodi kita bantu,” kata Irman.
Irman berharap bantuan saprodi serupa tetap berlanjut di tahun depan. Hasil monitoring tersebut akan dijadikan bahan evaluasi ke Kementerian Pertanian untuk memperbanyak jumlah bantuan di tingkat petani.
“Dari hasil evaluasi ini lah kita akan tahu seperti apa kondisi di lapangan. Kita berharap jumlah petani yang menerima bantuan ke depan akan bertambah,” tandas Irman.*)





